Sunday, April 21, 2013

Blue and Flower

(A Short Story)

Setangkap roti tawar berisikan selai srikaya tergenggam di tangan Erka. Sambil terburu-buru menuju mobil yang sudah dinyalakan mesinnya, ia entah bagaimana masih bisa mengatur berbagai bawaan termasuk roti tadi di tangannya. Dari dalam, ayah gadis ini memanggilnya dengan nada tinggi.

“Erka, kenapa buru-buru sekali?” panggil ayahnya yang sekarang berjalan mengikuti Erka keluar.

“Aku telat Yah, hari ini adalah hari terakhir latihan ditambah gladiresik eskul teater.” jawabnya.

“Tapi apakah sedini ini? Kamu sadar ini baru jam 7 pagi?” tanya ayahnya lagi.

“Seharusnya jam 7 aku sudah di sekolah, Ayah. Aku pergi dulu ya, besok Ayah lihat pementasanku bukan?” Erka berdiri di depan pintu mobil menunggu jawaban dari ayahnya.

“Iya sayang, pasti ayah akan datang ke pementasanmu.” sang ayah lalu mengecup kening anak perempuannya.

Erka tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Sedetik kemudian mobil sedan silver sudah melaju kencang di tengah hingar-bingar jalan di pagi hari.

Sesampainya di sekolah, Erka segera turun dari mobilnya dan menyuruh Pak Edi, supir Erka untuk pulang dan menjemputnya nanti setelah ia selesai. Erka melangkahkan kakinya ke ruangan aula. Ia memang sudah terlambat , terlihat disana semua pemain dan kru pementasan sudah hadir dan mereka sedikit menunggu Erka.

Erka adalah ketua eskul teater di sekolahnya. Ia pun berperan sebagai sutradara di pementasan kali ini. Dalam rangka memeriahkan acara perpisahan kelas 3 di sekolahnya, ia mencetuskan untuk ikut serta sebagai penampil dalam acara ini meskipun Erka dan tim nya masih kelas 2 SMA. Dengan bantuan seluruh anggota ekstrakurikuler, terciptalah cerita ‘Perjalanan Hidup Sang Bintang’ yang ditulis oleh Luna, si penulis naskah, dengan diberi sedikit bumbu lawakan pintar. 
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan Diro, sang bintang yang meskipun sudah memenangkan satu kompetisi namun ia tak kunjung terkenal. Dengan sedemikian rupa Erka sebagai sutradara mengatur setiap detail pementasan hingga sampai pada detik ini.

“Maaf semua aku terlambat.” ucap Erka terengah-engah karena ia berlari dari gerbang ke aula.

“Tidak apa-apa kok, kita juga belum menunggu kamu terlalu lama.” sahut Bian pemeran Diro.

Bian memang selalu ramah terhadap Erka. Ia tak pernah protes dengan apa yang Erka perintahkan kepadanya dalam pementasan ini.

“Ya sudah kalo gitu, semuanya kita latihan sekali lalu setelah ini gladiresik dengan menggunakan kostum.”

Semua kru dan pemain mengambil posisi mereka masing-masing. Setelah semua siap, barulah Erka memberi aba-aba.

“THREE, TWO, ONE AND ACTION!” teriak Erka lantang dan saat itu juga latihan dimulai.

Babak 1 dimulai dari Diro yang mengikuti audisi pencarian bakat. Dan secara langsung ia lolos audisi itu karena memiliki suara yang merdu.
Babak 2 dilanjutkan dengan adegan Diro yang berhasil menuju babak final di kompetisi ini hingga ia memenangkannya. Di babak ini, Bian harus berakting seakan-akan ia bernyanyi diatas panggung megah, di tengah teriakan penonton yang meriah. Hingga akhir babak ini diakhiri dengan Diro yang berhasil menang.
Di babak 3, Diro memasuki dapur rekaman, memiliki album, dan berangsur-angsur kaya. Namun sekaya apapun dia, Diro tidak pernah memiliki satu penggemar pun. Lama-kelamaan, situasi ini membuat Diro frustasi. Hingga suatu hari ia sadar bahwa selama ini kesombongan telah membawanya pada kesendirian. Ia pun menyesali perbuatannya itu.
Di babak 4  ini, kita akan menyaksikan Diro yang perlahan-lahan membangun kembali citranya menjadi seniman yang rendah hati. Sedikit demi sedikit usahanya berhasil. Ia sukses dalam berkarya dan masyarakat menyukainya.
Sampai pada babak terakhir, Diro bertemu dengan seorang wanita cantik pujaan hatinya. Ia pun menikahi wanita ini dan membina bahtera rumah tangga bersama. Persingkat 5 tahun kemudian, pernikahan Diro dan wanita ini dikaruniai 2 orang putra. Namun keduanya tidak ada yang bisa bernyanyi seperti ayahnya.
Selesai.

Memang bukan ending yang ditungg-tunggu penikmat pementasan ini, karena itulah tujuannya. Sang penulis naskah ingin memberikan kesan tersendiri di akhir ceritanya. Not just usual happy ending. Babak terakhir diwarnai dengan tepuk tangan dari semua kru. Erka kemudian memerintahkan pada seluruh pemain dan kru untuk beristirahat, selagi menunggu orang yang mengambil pesanan kostum pementasan mereka.

Satu persatu dari mereka pun terpencar di setiap sudut ruangan dan beristirahat. Tiap-tiap orang melakukan kegiatan yang beragam selama istirahat. Ada yang makan, sekedar minum bahkan yang tertawa sampai terjungkal-jungkal pun ada. Sementara Erka, ia belum beranjak dari kursi sutradaranya sambil sibuk membaca tumpukan lebar naskah di tangannya. Ia begitu serius sampai sampai tidak menyadari Bian sudah berdiri di sampingnya sambil memegang 2 cangkir berisi cokelat panas.

“Ehm, serius banget sih.” Erka tersentak mendengar suara Bian di sampingnya. Bian pun tersenyum selagi memberikan satu cokelat panas di tangannya kepada Erka, lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahnya.

“Makasih ya.” ucap Erka setelah meneguk cokelat panas yang diberikan Bian.

“Sama-sama. Oh ya, aktingku sudah memenuhi syarat kan?”

“Aktingmu bagus kok, penjiwaannya dapat. Yang lain juga sama.” jawab Erka tersenyum.

“Berarti kamu sudah merasa puas karena berhasil menyutradarai pementasan kali ini?”

Erka nampak ragu-ragu menjawab Bian kali ini. “Ya lumayan sih, tapi aku rasa masih kurang sedikit ‘percikan’ di satu adegan.”

“Masa sih? Adegan apa?” tanya Bian mengerutkan keningnya.

“Saat kamu nyanyi di kompetisi, rasanya aku ingin tambahkan sedikit action untuk adegan itu, cuma aku belum tahu harus ditambah apa. Menurutmu gimana?” Bian diam sejenak memikirkan solusi atas keinginan Erka saat ini. Lalu tiba-tiba otaknya memunculkan satu ide yang selama ini ingin ia lakukan untuk Erka.

“Saat pementasan kamu akan jadi figuran penontonku bukan?” tanya Bian memecah keheningan.

Erka nampak mengingat-ingat kembali. “Ya benar.”

“Kalo begitu, izinkan aku untuk memenuhi ‘percikan’ yang kamu inginkan di adegan ini. Kamu harus jadi penonton terdepan oke?” ujar Bian dengan wajah yang berbinar.

“Iya-eh tapi tunggu dulu. Kamu mau menambahkan apa di adegan itu?” Bian menatap Erka lalu tersenyum. Ia tidak akan mengatakannya pada Erka, melainkan langsung menunjukkannya.

“Kau lihat saja nanti pada saat gladiresik.” ucap Bian.

 Belum sempat Erka bertanya lebih jauh lagi, 2 orang kru masuk ke ruangan aula dengan membawa 2 koper besar berisikan kostum-kostum pemain. Mereka pun segera meminta Erka untuk melaksanakan gladiresik.

Menit-menit menuju gladiresik, Bian tidak terlihat dimana pun. Semua pemain telah selesai mengganti pakaiannya dengan kostum yang sesuai dan Bian belum menampakkan batang hidungnya. Setelah menunggu sekitar 10 menit, barulah ia memasuki ruangan aula dengan kostum Diro dan kedua tangan dibalik punggungnya. Semua mata memandangnya sinin dan kesal karena telah membuang waktu.

“Hehe, maaf semua. Yuk langsung mulai gladiresiknya.”

Tanpa basa-basi lagi, gladiresik pun dimulai.
Dari adegan ke adegan semua berjalan sempurna. Hingga tiba pada adegan dimana Diro menyanyi di panggung kompetisi. Erka telah menunggu adegan ini dari tadi ia pun segera mengambil posisi sebagai figuran penonton di baris pertama. Ia ingin tahu ‘percikan’ apa yang akan ditunjukkan Bian. Disini, Bian berakting menyanyikan lagu ‘Just The Way You Are’ milik Bruno Mars. Dan ketika sampai pada reff pertama, ia menarik tangan Erka dan membawanya ke tengah aula. Lalu ia merogoh saku belakangnya dan memberikan Erka rangkaian bunga yang baru dipetik. Bunga ini tidak asing, karena ditanam di sekitar gedung sekolah.

Bunga. 
Benda yang paling dibenci Erka di dunia ini. Benda itu selalu Erka hindari dan sekarang ia melihat itu di depannya. Erka tak kuasa menahan emosi, hingga ia pun lari menjauh dari Bian. Ia berlari keluar aula dan menitihkan air mata. Bian tersentak kaget dan tidak tahu menahu. Ia tidak  mengerti apa yang terjadi, bagaimana mungkin seorang wanita bisa membenci bunga? Ia berusaha mengejar Erka namun beberapa orang teman menahannya. Erka lebih baik ditemani teman-teman perempuan yang lebih mengerti perasannya.

Kejadian ini membuat gladiresik berhenti di tengah jalan. Beberapa orang perempuan berusaha menenangkan Erka yang masih tersedu-sedu di luar. Sementara di dalam, Bian masih bingung memikirkan apa yang baru ia lakukan.

“Kenapa kamu memberi Erka bunga? Kamu sudah gila?” tanya Santi dengan nada tinggi. Membuyarkan Bian dari lamunannya.

“Aku hanya ingin membuatnya senang, aku tidak tahu kenapa dia bisa nangis setelah melihat bunga.”

“Erka tidak suka bunga, ia bahkan benci dengan bunga!” bentaknya.

Mulut Bian hampir menyentuh tanah mendengarnya. “Bagaimana bisa? Apa dia alergi?”

Santi melemaskan otot-otot wajahnya. Ia mengerti sekarang, Bian benar-benar tidak tahu.

“Semua itu terjadi saat ia masih berusia 6 tahun. Waktu itu Erka sekeluarga sedang berlibur ke luar kota. Ketika mereka sedang mampir di sebuah restoran, Erka melihat penjual bunga di seberang restoran itu. Lantas ia meminta ibunya untuk membelikannya satu. Dengan senang hati, ibunya Erka berjalan dan membelikannya. Setelah ia selesai, ibunya Erka hendak menyebrang kembali menuju Erka dan ayahnya, namun dari arah kiri terdapat sebuah bis melaju kencang tak terkendali dan menabrak ibunya Erka. Tabrakannya begitu keras dan cepat hingga ibunya Erka meninggal di tempat dan masih menggenggam bunga, disaksikan oleh Erka dengan mata telanjang. Sejak saat itu, Erka tidak pernah mau mendengar atau melihat bunga jenis apapun.”

Crack.

Seperti sesuatu yang patah di hati Bian. Ia tidak menyangka ia baru saja melakukan kesalahan sebesar ini. Kalau saja ia tahu tentang masa lalu Erka yang kelam, ia akan lebih hati-hati lagi. Semua ini sudah terlambat baginya.
Bian terpaku, mematung di tempat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah Erka akan membencinya? Bagaimana ia bisa menerima seseorang yang ia sayangi membenci dirinya? Pikiran Bian penuh. Ia tidak dapat berpikir jernih, namun berdiam diri dan menyesali perbuatan tidak akan menyelesaikan masalah.

Bian pun berjalan menuju pintu aula, hendak meminta maaf pada Erka. Namun belum sampai langkahnya di daun pintu, Erka sudah melangkah masuk dengan air mata kering di wajahnya.

“Erka, aku minta maaf…aku tidak tahu-“

“Tidak apa-apa.” jawabnya terisak memotong perkataan Bian. Erka bahkan tidak menatap matanya.

“Sumpah, jika aku tahu aku tidak akan berbuat ini padamu. Aku tidak sengaja, Erka.”

“Iya tak apa-apa kok, Bi. Udah ya kita lanjutkan saja biar cepat selesai.” ucap Erka memaksakan senyum.

Gladiresik pun dilanjutkan dengan keadaan kurang nyaman antara satu sama lain.

Keesokan harinya.

Hari ini adalah hari pementasan. Acara perpisahan kelas 12 diadakan pada hari Sabtu pada pukul 9 pagi. Penampilan dari eskul teater menjadi penampil pertama acara ini, setelah pembukaan dan sambutan. Rasa nervous tentu saja menyelimuti seluruh tim eskul ini. Apalagi dengan adanya kejadian menegangkan kemarin, mereka harap-harap cemas. Sekalipun setiap adegan dalam pementasan ini sudah ada diluar kepala mereka, rasa takut masih tetap ada.

Beruntung Erka adalah tipe orang pekerja. Setegang apapun kemarin, ia akan tetap professional untuk hari ini. Menebar senyum dan ceria, menyembunyikan kesedihannya. Itulah Erka. Lima menit sebelum pementasan, seluruh tim eskul ini merapat dan membuat lingkaran. Mereka berdoa, meminta ridho kepada Yang Maha Kuasa untuk kesuksesan mereka hari ini.

“Mari kira saksikan bersama, penampilan dari Eskul Teater!”

Pembawa acara sudah memanggil mereka, para senior telah duduk di kursi dan memberi tepuk tangan. Pementasan pun dimulai. Mereka tidak beraksi diatas panggung, melainkan dibawahnya. Ukuran panggung yang tidak seluas lapangan, dikhawatirkan tidak mencukupi untuk menampilkan teater. Dari samping Erka menyaksikan para pemain melakonkan perannya. Terutama Bian, yang menjadi peran utama dalam cerita ini. Dan ternyata, Bian berhasil memerankan tokoh Diro.

Babak satu selesai. Tirai ditutup dan sekarang berganti ke babak dua. Babak dimana Erka akan terjun bersama figuran lain menjadi penonton di kompetisi dalam cerita. Bian berakting seakan-akan ia sedang diatas panggung dan bernyanyi. Begitu sampai pada reff pertama, ia menghampiri Erka dan menariknya ke tengah lapangan. 
Sambil bernyanyi, Bian menatap wajah Erka yang masih linglung. Erka melihat ke setiap sudut lapangan, melihat reaksi semua penonton. Ia juga melihat ayahnya berdiri di pojok lapangan, tersenyum melihatnya. Begitu Erka sudah tenang, ia beralih ke Bian yang sudah menatapnya dari tadi. Kemudian Bian merogoh saku belakangnya dan memberikan benda berbentuk kerucut terbalik yang disampul dengan kertas warna biru muda. 
Sampul kertas ini begitu menarik yang dipenuhi dengan hiasan indah, sehingga penonton tidak memperdulikan apa isi dibalik sampul ini. Bian pun melepas genggamannya dari Erka dan membiarkannya kembali ke barisan penonton figuran. Kemudian ia kembali bergaya menyanyi diatas panggung seperti semula.

Babak demi babak telah dilewati. Pementasan kali ini benar-benar sukses. Sukses membuat tawa, sukses dalam bercerita dan sukses dalam berlakon. Kini saatnya semua pemain dan kru maju memperlihatkan diri dan secara bersamaan membungkukkan diri dan mengucapkan terima kasih. Mereka semua kembali ke aula, tempat berlatih mereka selama ini dan bersorak. Saling berpelukan, merayakan kesuksesan mereka dalam pentas kali ini.

Para pemain terlihat menghapus make-up mereka dan berganti ke pakaian normal. Lain halnya dengan Bian. Ia malah menemukan langkah kakinya mendekati Erka. Sang gadis yang melihat laki-laki ini berjalan kearahnya, segera menorehkan senyum.

“You did a great job! Dan thanks ya atas ini.” Erka mengangkat benda biru itu ke depan wajahnya.

Biru. 
Warna kesukaan Erka. Warna yang mampu memberikan Erka ketenangan dan membuatnya jatuh cinta pada warna itu.

“Sebenarnya kamu yang hebat hari ini. Lihat pementasan kita berhasil!” Mereka diam sejenak. Bian memandang Erka yang masih mengagumi benda bersampul biru itu.

“Aku ingin kamu melakukan satu hal, buka sampul biru ini dan lihat isi di dalamnya.” pinta Bian terhadap Erka. Tanpa sepatah kata pun, ia mulai mencari akhiran sampul biru ini. 
Begitu Erka menemukannya, ia berniat untuk merobeknya namun ditahan oleh Bian.

“Aku ingin kamu berjanji apapun isi di dalamnya, kamu tidak akan menangis. Janji?”

Erka menarik nafas. “Janji.” ujarnya. 
Lalu ia mulai merobek sampul biru itu yang membentuk gulungan. Terkejutlah ia dengan apa yang sekarang berada di tangannya. Serangkaian bunga anggrek berwarna biru keunguan. 
Rangkaian bunga itu begitu indah dan berwarna biru. Tapi itu bunga! Benda yang Erka benci, benda yang membuatnya kehilangan seorang ibu.

“Aku minta maaf karena aku melakukan ini, tapi aku harus melakukannya Erka.” Ia masih menundukkan kepalanya saat Bian mulai berbicara. Tanpa ragu, Bian menyentuh dagu Erka dengan lembut, mengangkat wajah mungilnya menatap Bian.

“Aku tahu hal itu sangat berat untukmu, tapi kamu harus melupakannya. Kamu tidak boleh terpuruk dalam ingatan kelam masa kecilmu yang terus menghantui. Bunga ini bukan penyebabnya, setiap kejadian di dunia sudah diatur oleh Tuhan.” Otot wajah Erka menegang saat Bian mengucap kata ‘bunga’ di hadapannya.

“Kamu tidak mengerti, a-aku t-tidak bisa…” ucap Erka terbata-bata dan terisak.

“Aku akan membantumu melewatinya. Kamu harus bisa mengalahkan rasa bencimu dengan rasa cinta. Seperti kamu mengalahkan kebencianmu pada bunga dengan kecintaanmu pada biru saat ini.”
Bian menggenggam tangan Erka yang sampai sekarang belum membuang jauh bunga anggrek itu. 

Akhirnya Erka pun meluluh. Ia sadar selama ini ia hanya dihantui masa lalu yang kelam. Tuhan sudah mengatur segala sesuatu yang terjadi di kehidupan manusia. Setiap hal buruk bukan mutlak kekhilafan diri sendiri.
Erka menghapus air matanya dan tersenyum kepada Bian, seseorang yang tulus mengeluarkannya dari bayang-bayang kelam. Mereka masih berdiri disana, saling memandang.

“Thank you.” ujar Erka tersenyum.
“You’re amazing, just the way you are. Dan aku mencintaimu.” bisik Bian kepadanya.


If you read my post last week, you'll get this story, xoxo.

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com