Setangkap roti tawar
berisikan selai srikaya tergenggam di tangan Erka. Sambil terburu-buru menuju
mobil yang sudah dinyalakan mesinnya, ia entah bagaimana masih bisa mengatur
berbagai bawaan termasuk roti tadi di tangannya. Dari dalam, ayah gadis ini
memanggilnya dengan nada tinggi.
“Erka, kenapa buru-buru
sekali?” panggil ayahnya yang sekarang berjalan mengikuti Erka keluar.
“Aku telat Yah, hari ini
adalah hari terakhir latihan ditambah gladiresik eskul teater.” jawabnya.
“Tapi apakah sedini ini?
Kamu sadar ini baru jam 7 pagi?” tanya ayahnya lagi.
“Seharusnya jam 7 aku sudah
di sekolah, Ayah. Aku pergi dulu ya, besok Ayah lihat pementasanku bukan?” Erka
berdiri di depan pintu mobil menunggu jawaban dari ayahnya.
“Iya sayang, pasti ayah akan
datang ke pementasanmu.” sang ayah lalu mengecup kening anak perempuannya.
Erka tersenyum dan masuk ke
dalam mobil. Sedetik kemudian mobil sedan silver sudah melaju kencang di tengah
hingar-bingar jalan di pagi hari.
Sesampainya di sekolah, Erka
segera turun dari mobilnya dan menyuruh Pak Edi, supir Erka untuk pulang dan
menjemputnya nanti setelah ia selesai. Erka melangkahkan kakinya ke ruangan
aula. Ia memang sudah terlambat , terlihat disana semua pemain dan kru
pementasan sudah hadir dan mereka sedikit menunggu Erka.
Erka adalah ketua eskul
teater di sekolahnya. Ia pun berperan sebagai sutradara di pementasan kali ini.
Dalam rangka memeriahkan acara perpisahan kelas 3 di sekolahnya, ia mencetuskan
untuk ikut serta sebagai penampil dalam acara ini meskipun Erka dan tim nya
masih kelas 2 SMA. Dengan bantuan seluruh anggota ekstrakurikuler, terciptalah
cerita ‘Perjalanan Hidup Sang Bintang’ yang ditulis oleh Luna, si penulis
naskah, dengan diberi sedikit bumbu lawakan pintar.
Cerita ini menceritakan
tentang perjuangan Diro, sang bintang yang meskipun sudah memenangkan satu
kompetisi namun ia tak kunjung terkenal. Dengan sedemikian rupa Erka sebagai
sutradara mengatur setiap detail pementasan hingga sampai pada detik ini.
“Maaf semua aku terlambat.”
ucap Erka terengah-engah karena ia berlari dari gerbang ke aula.
“Tidak apa-apa kok, kita
juga belum menunggu kamu terlalu lama.” sahut Bian pemeran Diro.
Bian memang selalu ramah
terhadap Erka. Ia tak pernah protes dengan apa yang Erka perintahkan kepadanya
dalam pementasan ini.
“Ya sudah kalo gitu,
semuanya kita latihan sekali lalu setelah ini gladiresik dengan menggunakan
kostum.”
Semua kru dan pemain
mengambil posisi mereka masing-masing. Setelah semua siap, barulah Erka memberi
aba-aba.
“THREE, TWO, ONE AND
ACTION!” teriak Erka lantang dan saat itu juga latihan dimulai.
Babak 1 dimulai dari Diro
yang mengikuti audisi pencarian bakat. Dan secara langsung ia lolos audisi itu
karena memiliki suara yang merdu.
Babak 2 dilanjutkan dengan
adegan Diro yang berhasil menuju babak final di kompetisi ini hingga ia
memenangkannya. Di babak ini, Bian harus berakting seakan-akan ia bernyanyi
diatas panggung megah, di tengah teriakan penonton yang meriah. Hingga akhir
babak ini diakhiri dengan Diro yang berhasil menang.
Di babak 3, Diro memasuki
dapur rekaman, memiliki album, dan berangsur-angsur kaya. Namun sekaya apapun
dia, Diro tidak pernah memiliki satu penggemar pun. Lama-kelamaan, situasi ini
membuat Diro frustasi. Hingga suatu hari ia sadar bahwa selama ini kesombongan
telah membawanya pada kesendirian. Ia pun menyesali perbuatannya itu.
Di babak 4 ini, kita akan menyaksikan Diro yang
perlahan-lahan membangun kembali citranya menjadi seniman yang rendah hati.
Sedikit demi sedikit usahanya berhasil. Ia sukses dalam berkarya dan masyarakat
menyukainya.
Sampai pada babak terakhir,
Diro bertemu dengan seorang wanita cantik pujaan hatinya. Ia pun menikahi
wanita ini dan membina bahtera rumah tangga bersama. Persingkat 5 tahun
kemudian, pernikahan Diro dan wanita ini dikaruniai 2 orang putra. Namun
keduanya tidak ada yang bisa bernyanyi seperti ayahnya.
Selesai.
Memang bukan ending yang
ditungg-tunggu penikmat pementasan ini, karena itulah tujuannya. Sang penulis
naskah ingin memberikan kesan tersendiri di akhir ceritanya. Not just usual
happy ending. Babak terakhir diwarnai dengan tepuk tangan dari semua kru. Erka
kemudian memerintahkan pada seluruh pemain dan kru untuk beristirahat, selagi
menunggu orang yang mengambil pesanan kostum pementasan mereka.
Satu persatu dari mereka pun
terpencar di setiap sudut ruangan dan beristirahat. Tiap-tiap orang melakukan
kegiatan yang beragam selama istirahat. Ada yang makan, sekedar minum bahkan
yang tertawa sampai terjungkal-jungkal pun ada. Sementara Erka, ia belum
beranjak dari kursi sutradaranya sambil sibuk membaca tumpukan lebar naskah di
tangannya. Ia begitu serius sampai sampai tidak menyadari Bian sudah berdiri di
sampingnya sambil memegang 2 cangkir berisi cokelat panas.
“Ehm, serius banget sih.”
Erka tersentak mendengar suara Bian di sampingnya. Bian pun tersenyum selagi
memberikan satu cokelat panas di tangannya kepada Erka, lalu menarik sebuah
kursi dan duduk di sebelahnya.
“Makasih ya.” ucap Erka
setelah meneguk cokelat panas yang diberikan Bian.
“Sama-sama. Oh ya, aktingku
sudah memenuhi syarat kan?”
“Aktingmu bagus kok,
penjiwaannya dapat. Yang lain juga sama.” jawab Erka tersenyum.
“Berarti kamu sudah merasa
puas karena berhasil menyutradarai pementasan kali ini?”
Erka nampak ragu-ragu
menjawab Bian kali ini. “Ya lumayan sih, tapi aku rasa masih kurang sedikit
‘percikan’ di satu adegan.”
“Masa sih? Adegan apa?”
tanya Bian mengerutkan keningnya.
“Saat kamu nyanyi di
kompetisi, rasanya aku ingin tambahkan sedikit action untuk adegan itu, cuma
aku belum tahu harus ditambah apa. Menurutmu gimana?” Bian diam sejenak
memikirkan solusi atas keinginan Erka saat ini. Lalu tiba-tiba otaknya
memunculkan satu ide yang selama ini ingin ia lakukan untuk Erka.
“Saat pementasan kamu akan
jadi figuran penontonku bukan?” tanya Bian memecah keheningan.
Erka nampak mengingat-ingat
kembali. “Ya benar.”
“Kalo begitu, izinkan aku
untuk memenuhi ‘percikan’ yang kamu inginkan di adegan ini. Kamu harus jadi
penonton terdepan oke?” ujar Bian dengan wajah yang berbinar.
“Iya-eh tapi tunggu dulu.
Kamu mau menambahkan apa di adegan itu?” Bian menatap Erka lalu tersenyum. Ia
tidak akan mengatakannya pada Erka, melainkan langsung menunjukkannya.
“Kau lihat saja nanti pada
saat gladiresik.” ucap Bian.
Belum sempat Erka bertanya lebih jauh lagi, 2
orang kru masuk ke ruangan aula dengan membawa 2 koper besar berisikan
kostum-kostum pemain. Mereka pun segera meminta Erka untuk melaksanakan
gladiresik.
Menit-menit menuju
gladiresik, Bian tidak terlihat dimana pun. Semua pemain telah selesai
mengganti pakaiannya dengan kostum yang sesuai dan Bian belum menampakkan
batang hidungnya. Setelah menunggu sekitar 10 menit, barulah ia memasuki
ruangan aula dengan kostum Diro dan kedua tangan dibalik punggungnya. Semua
mata memandangnya sinin dan kesal karena telah membuang waktu.
“Hehe, maaf semua. Yuk
langsung mulai gladiresiknya.”
Tanpa basa-basi lagi,
gladiresik pun dimulai.
Dari adegan ke adegan semua
berjalan sempurna. Hingga tiba pada adegan dimana Diro menyanyi di panggung
kompetisi. Erka telah menunggu adegan ini dari tadi ia pun segera mengambil
posisi sebagai figuran penonton di baris pertama. Ia ingin tahu ‘percikan’ apa
yang akan ditunjukkan Bian. Disini, Bian berakting menyanyikan lagu ‘Just The
Way You Are’ milik Bruno Mars. Dan ketika sampai pada reff pertama, ia menarik
tangan Erka dan membawanya ke tengah aula. Lalu ia merogoh saku belakangnya dan
memberikan Erka rangkaian bunga yang baru dipetik. Bunga ini tidak asing,
karena ditanam di sekitar gedung sekolah.
Bunga.
Benda yang paling
dibenci Erka di dunia ini. Benda itu selalu Erka hindari dan sekarang ia
melihat itu di depannya. Erka tak kuasa menahan emosi, hingga ia pun lari
menjauh dari Bian. Ia berlari keluar aula dan menitihkan air mata. Bian tersentak
kaget dan tidak tahu menahu. Ia tidak
mengerti apa yang terjadi, bagaimana mungkin seorang wanita bisa
membenci bunga? Ia berusaha mengejar Erka namun beberapa orang teman
menahannya. Erka lebih baik ditemani teman-teman perempuan yang lebih mengerti
perasannya.
Kejadian ini membuat
gladiresik berhenti di tengah jalan. Beberapa orang perempuan berusaha
menenangkan Erka yang masih tersedu-sedu di luar. Sementara di dalam, Bian masih
bingung memikirkan apa yang baru ia lakukan.
“Kenapa kamu memberi Erka
bunga? Kamu sudah gila?” tanya Santi dengan nada tinggi. Membuyarkan Bian dari
lamunannya.
“Aku hanya ingin membuatnya
senang, aku tidak tahu kenapa dia bisa nangis setelah melihat bunga.”
“Erka tidak suka bunga, ia
bahkan benci dengan bunga!” bentaknya.
Mulut Bian hampir menyentuh
tanah mendengarnya. “Bagaimana bisa? Apa dia alergi?”
Santi melemaskan otot-otot
wajahnya. Ia mengerti sekarang, Bian benar-benar tidak tahu.
“Semua itu terjadi saat ia
masih berusia 6 tahun. Waktu itu Erka sekeluarga sedang berlibur ke luar kota.
Ketika mereka sedang mampir di sebuah restoran, Erka melihat penjual bunga di
seberang restoran itu. Lantas ia meminta ibunya untuk membelikannya satu.
Dengan senang hati, ibunya Erka berjalan dan membelikannya. Setelah ia selesai,
ibunya Erka hendak menyebrang kembali menuju Erka dan ayahnya, namun dari arah
kiri terdapat sebuah bis melaju kencang tak terkendali dan menabrak ibunya
Erka. Tabrakannya begitu keras dan cepat hingga ibunya Erka meninggal di tempat
dan masih menggenggam bunga, disaksikan oleh Erka dengan mata telanjang. Sejak
saat itu, Erka tidak pernah mau mendengar atau melihat bunga jenis apapun.”
Crack.
Seperti sesuatu yang patah
di hati Bian. Ia tidak menyangka ia baru saja melakukan kesalahan sebesar ini.
Kalau saja ia tahu tentang masa lalu Erka yang kelam, ia akan lebih hati-hati
lagi. Semua ini sudah terlambat baginya.
Bian terpaku, mematung di
tempat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah Erka akan membencinya?
Bagaimana ia bisa menerima seseorang yang ia sayangi membenci dirinya? Pikiran
Bian penuh. Ia tidak dapat berpikir jernih, namun berdiam diri dan menyesali
perbuatan tidak akan menyelesaikan masalah.
Bian pun berjalan menuju
pintu aula, hendak meminta maaf pada Erka. Namun belum sampai langkahnya di
daun pintu, Erka sudah melangkah masuk dengan air mata kering di wajahnya.
“Erka, aku minta maaf…aku
tidak tahu-“
“Tidak apa-apa.” jawabnya
terisak memotong perkataan Bian. Erka bahkan tidak menatap matanya.
“Sumpah, jika aku tahu aku
tidak akan berbuat ini padamu. Aku tidak sengaja, Erka.”
“Iya tak apa-apa kok, Bi.
Udah ya kita lanjutkan saja biar cepat selesai.” ucap Erka memaksakan senyum.
Gladiresik pun dilanjutkan
dengan keadaan kurang nyaman antara satu sama lain.
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari
pementasan. Acara perpisahan kelas 12 diadakan pada hari Sabtu pada pukul 9
pagi. Penampilan dari eskul teater menjadi penampil pertama acara ini, setelah
pembukaan dan sambutan. Rasa nervous tentu saja menyelimuti seluruh tim eskul
ini. Apalagi dengan adanya kejadian menegangkan kemarin, mereka harap-harap
cemas. Sekalipun setiap adegan dalam pementasan ini sudah ada diluar kepala mereka,
rasa takut masih tetap ada.
Beruntung Erka adalah tipe
orang pekerja. Setegang apapun kemarin, ia akan tetap professional untuk hari
ini. Menebar senyum dan ceria, menyembunyikan kesedihannya. Itulah Erka. Lima
menit sebelum pementasan, seluruh tim eskul ini merapat dan membuat lingkaran.
Mereka berdoa, meminta ridho kepada Yang Maha Kuasa untuk kesuksesan mereka
hari ini.
“Mari kira saksikan bersama,
penampilan dari Eskul Teater!”
Pembawa acara sudah
memanggil mereka, para senior telah duduk di kursi dan memberi tepuk tangan.
Pementasan pun dimulai. Mereka tidak beraksi diatas panggung, melainkan
dibawahnya. Ukuran panggung yang tidak seluas lapangan, dikhawatirkan tidak
mencukupi untuk menampilkan teater. Dari samping Erka menyaksikan para pemain melakonkan
perannya. Terutama Bian, yang menjadi peran utama dalam cerita ini. Dan
ternyata, Bian berhasil memerankan tokoh Diro.
Babak satu selesai. Tirai
ditutup dan sekarang berganti ke babak dua. Babak dimana Erka akan terjun
bersama figuran lain menjadi penonton di kompetisi dalam cerita. Bian berakting
seakan-akan ia sedang diatas panggung dan bernyanyi. Begitu sampai pada reff
pertama, ia menghampiri Erka dan menariknya ke tengah lapangan.
Sambil
bernyanyi, Bian menatap wajah Erka yang masih linglung. Erka melihat ke setiap
sudut lapangan, melihat reaksi semua penonton. Ia juga melihat ayahnya berdiri
di pojok lapangan, tersenyum melihatnya. Begitu Erka sudah tenang, ia beralih
ke Bian yang sudah menatapnya dari tadi. Kemudian Bian merogoh saku belakangnya
dan memberikan benda berbentuk kerucut terbalik yang disampul dengan kertas
warna biru muda.
Sampul kertas ini begitu menarik yang dipenuhi dengan hiasan
indah, sehingga penonton tidak memperdulikan apa isi dibalik sampul ini. Bian
pun melepas genggamannya dari Erka dan membiarkannya kembali ke barisan
penonton figuran. Kemudian ia kembali bergaya menyanyi diatas panggung seperti
semula.
Babak demi babak telah
dilewati. Pementasan kali ini benar-benar sukses. Sukses membuat tawa, sukses
dalam bercerita dan sukses dalam berlakon. Kini saatnya semua pemain dan kru
maju memperlihatkan diri dan secara bersamaan membungkukkan diri dan
mengucapkan terima kasih. Mereka semua kembali ke aula, tempat berlatih mereka
selama ini dan bersorak. Saling berpelukan, merayakan kesuksesan mereka dalam
pentas kali ini.
Para pemain terlihat
menghapus make-up mereka dan berganti ke pakaian normal. Lain halnya dengan
Bian. Ia malah menemukan langkah kakinya mendekati Erka. Sang gadis yang
melihat laki-laki ini berjalan kearahnya, segera menorehkan senyum.
“You did a great job! Dan
thanks ya atas ini.” Erka mengangkat benda biru itu ke depan wajahnya.
Biru.
Warna kesukaan Erka.
Warna yang mampu memberikan Erka ketenangan dan membuatnya jatuh cinta pada
warna itu.
“Sebenarnya kamu yang hebat
hari ini. Lihat pementasan kita berhasil!” Mereka diam sejenak. Bian memandang
Erka yang masih mengagumi benda bersampul biru itu.
“Aku ingin kamu melakukan
satu hal, buka sampul biru ini dan lihat isi di dalamnya.” pinta Bian terhadap
Erka. Tanpa sepatah kata pun, ia mulai mencari akhiran sampul biru ini.
Begitu
Erka menemukannya, ia berniat untuk merobeknya namun ditahan oleh Bian.
“Aku ingin kamu berjanji
apapun isi di dalamnya, kamu tidak akan menangis. Janji?”
Erka menarik nafas. “Janji.”
ujarnya.
Lalu ia mulai merobek sampul biru itu yang membentuk gulungan.
Terkejutlah ia dengan apa yang sekarang berada di tangannya. Serangkaian bunga
anggrek berwarna biru keunguan.
Rangkaian bunga itu begitu indah dan berwarna
biru. Tapi itu bunga! Benda yang Erka benci, benda yang membuatnya kehilangan
seorang ibu.
“Aku minta maaf karena aku
melakukan ini, tapi aku harus melakukannya Erka.” Ia masih menundukkan
kepalanya saat Bian mulai berbicara. Tanpa ragu, Bian menyentuh dagu Erka
dengan lembut, mengangkat wajah mungilnya menatap Bian.
“Aku tahu hal itu sangat
berat untukmu, tapi kamu harus melupakannya. Kamu tidak boleh terpuruk dalam
ingatan kelam masa kecilmu yang terus menghantui. Bunga ini bukan penyebabnya,
setiap kejadian di dunia sudah diatur oleh Tuhan.” Otot wajah Erka menegang
saat Bian mengucap kata ‘bunga’ di hadapannya.
“Kamu tidak mengerti, a-aku
t-tidak bisa…” ucap Erka terbata-bata dan terisak.
“Aku akan membantumu
melewatinya. Kamu harus bisa mengalahkan rasa bencimu dengan rasa cinta.
Seperti kamu mengalahkan kebencianmu pada bunga dengan kecintaanmu pada biru
saat ini.”
Bian menggenggam tangan Erka
yang sampai sekarang belum membuang jauh bunga anggrek itu.
Akhirnya Erka pun
meluluh. Ia sadar selama ini ia hanya dihantui masa lalu yang kelam. Tuhan
sudah mengatur segala sesuatu yang terjadi di kehidupan manusia. Setiap hal
buruk bukan mutlak kekhilafan diri sendiri.
Erka menghapus air matanya
dan tersenyum kepada Bian, seseorang yang tulus mengeluarkannya dari
bayang-bayang kelam. Mereka masih berdiri disana, saling memandang.
“Thank you.” ujar Erka
tersenyum.
“You’re amazing, just the
way you are. Dan aku mencintaimu.” bisik Bian kepadanya.
If you read my post last week, you'll get this story, xoxo.

0 comments:
Post a Comment