Setangkap roti tawar
berisikan selai srikaya tergenggam di tangan Erka. Sambil terburu-buru menuju
mobil yang sudah dinyalakan mesinnya, ia entah bagaimana masih bisa mengatur
berbagai bawaan termasuk roti tadi di tangannya. Dari dalam, ayah gadis ini
memanggilnya dengan nada tinggi.
“Erka, kenapa buru-buru
sekali?” panggil ayahnya yang sekarang berjalan mengikuti Erka keluar.
“Aku telat Yah, hari ini
adalah hari terakhir latihan ditambah gladiresik eskul teater.” jawabnya.
“Tapi apakah sedini ini?
Kamu sadar ini baru jam 7 pagi?” tanya ayahnya lagi.
“Seharusnya jam 7 aku sudah
di sekolah, Ayah. Aku pergi dulu ya, besok Ayah lihat pementasanku bukan?” Erka
berdiri di depan pintu mobil menunggu jawaban dari ayahnya.
“Iya sayang, pasti ayah akan
datang ke pementasanmu.” sang ayah lalu mengecup kening anak perempuannya.
Erka tersenyum dan masuk ke
dalam mobil. Sedetik kemudian mobil sedan silver sudah melaju kencang di tengah
hingar-bingar jalan di pagi hari.
Sesampainya di sekolah, Erka
segera turun dari mobilnya dan menyuruh Pak Edi, supir Erka untuk pulang dan
menjemputnya nanti setelah ia selesai. Erka melangkahkan kakinya ke ruangan
aula. Ia memang sudah terlambat , terlihat disana semua pemain dan kru
pementasan sudah hadir dan mereka sedikit menunggu Erka.
