Saturday, December 29, 2012

Gone Away

(A Short Story) 

Aku melangkah menelusuri jalan dengan membawa setumpuk kertas hijau muda berukuran A4 di tanganku. Di setiap tiang dan dinding bangunan tua di kota kecil ini, aku berhenti lalu ku tempelkan kertas-kertas ini satu per satu pada tiang atau dinding yang aku temukan. Sejumlah kertas ini bertuliskan pencarian orang hilang. Aku berharap ada orang yang berbaik hati untuk membantuku mencari Adam, orang terpenting dalam hidupku. Aku tidak ingat sudah sejauh apa aku berjalan atau sebanyak sebanyak apa telah ku tempelkan kertas-kertas ini. Namun hari sudah semakin gelap, lingkar matahari mulai turun kebawah di sebelah barat, dan aku sudah tiba diujung jalan kota tua ini. Aku memutuskan untuk menempel satu kertas terakhir pada dinding bangunan kecil di sebelah kiriku. Saat aku hampir selesai menempel, entah dari mana datangnya, seorang wanita tua yang gemuk dan pendek, wajah keriputnya putih pucat, dan rambut pendeknya yang diikat kebelakang sudah hampir putih semua berdiri di sebelahku. Ia menyipitkan matanya dan mencoba membaca kertas yang saat ini, sudah tertempel di dinding.

LOST : Michael Adam Harris
Age : 17 years old
Specific Looks : Brown hair, bright skin, grey eyes, 6”1 tall.
Last Seen : January 1st
If you see a person just like the characteristics above, please contact Clara Shalom on 310-256-4496                                                    

Sebenarnya aku sudah menyertakan gambar Adam di kertas itu, namun karena gambar Adam yang aku punya hanya tampak samping dirinya jadi aku tambahkan ciri-ciri yang lebih lengkap. 

“I knew this boy” kata waita tua itu tiba-tiba
“You knew ma’am? Wait, knew?” ku bertanya dengan mata membelalak
“Tolong panggil aku Mrs. Collins,” katanya 
“Dan kau tak usah memperkenalka dirimu, I know who you are.” Aku tercengang.
“Bagaimana kau bisa mengenalku?”
“It’s a long story. Aku akan menceritakan semuanya jika kau bersedia untuk minum teh bersama ku sore ini.”
Ku telan ludah di tenggorokkan ku lalu aku berkata “baiklah.” Tak lebih keras dari sebuah bisikan.

At Mrs. Collins’s House 

“So how close are you with Adam?” tanya nya seraya menuang the ke dalam cangkir mungil di depan ku. 

Ya, dia sudah bercerita semua yang dia tahu tentangku. Adam yang memberitahunya. Dahulu Mrs. Collins adalah pengasuh Adam sejak ia masih berusia bulanan. Orang tua yang masih sangat belia dan sibuk, tidak mampu membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus Adam. Selama hampir 11 tahun Adam diasuh oleh Mrs. Collins, namu pada tahun ke-11 itu pula Mrs. Collins memutuskan untuk tidak mengasuh Adam lagi karena alasan usianya yang menua. Dua tahun setelahnya, Mrs. Collins menemukan Adam di depan pintu rumahnya dengan dua buah koper. Ia telah memutuskan utuk tinggal bersama Mrs. Collin dan berjanji akan merawatnya, tentu saja Mrs. Collins bersedia menerima Adam di rumah kecilnya. 

“Bisa dibilang dekat sekali. Itulah alasan ku mencarinya.”
“Kalian berdua pacaran?” dia bertanya sambil menatapku lekat.
“I uh…I’m not sure…”

Aku tidak tahu apakah aku dan Adam ada hubungan selama ini. Kami berdua memang selalu bersama, namun itu karena saling merasa nyaman bersama satu sama lain. Yang aku tahu, aku ingin bersama Adam selamanya, aku tidak bisa kehilanganya, itu saja. 

“Ada alasan lain mengapa kamu mencarinya, Clara?” aku diam sejenak. Kurasa ini saatnya aku bercerita tentang kejadian itu. 

On New Year’s Eve

“You ready little bear?”
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” ku hampiri dia lalu ku cubit lengannya.
“Awww! That hurts!” katanya seraya memberi ku tatapan sedih palsu.
“Haha berlebihan, itu belum seberapa.” kataku tersenyum. 

Malam itu, 5 menit sebelum pergantian tahun dan Adam telah berdiri di kerumunan orang di alun-alun kota. Setiap pergantian tahun warga di kota ini selalu berkumpul disini dan menunggu jarum jam tepat menunjuk ke angka 12. Kemudian tepat pukul 12 mereka secara serempak meniupkan terompet diiringi dengan semburan indah kembang api warna-warni di langit malam. Ini adalah kali pertama aku pergi ke alun-alun pada malam tahun baru. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk menginjakan kaki disini, pada waktu ini, namun Adam berhasil mempengaruhi pikiranku. 
“1 menit sebelum jam 12!” kata Adam sesaat mengulas senyum indahnya kepadaku.
“Yap. You excited?”
“Absolutely. Apalagi sejak aku bersamamu.” 

Dia menatapku. Mata abu-abu pekatnya yang menawan metama mata hitamku. Perlahan aku terseyum memandangnya. Memandang sosok yang begitu sempurna di hadapanku. 

“10…9…8…7…6…” orang-orang di sekitar aku dan Adam mulai menghitung mundur. Kami berdua secara otomatis ikut berhitung mundur menuju tahun baru. 
“5…4…3…2…1……” *duar…duarrr…duaaarr* *teneeett teeeett teneeet*

Suara terompet dan kembang api bersamaan menggelegar. Kurasakan seseorang melingkarkan tangannya di pinggangku, lalu perlahan menyentuh kedua tanganku kemudian menggenggamnya. Ku berbalik ke belakang dan Adam sudah menatapku dari tadi. Dia menatapku dengan lekat dan dalam. Seperti sesuatu menahan pikirannya. Kemudian dia melangkah mendekat, lebih dekat dari sebelumnya ke arahku dan mengecupkeningku. Dia menggenggamku erat da mencium keningku di kerumunan orang banyak, di tengah gelegar bising suara terompet dan ledakan kembang api. Aku terdiam dan hanya bisa menggenggam kembali tangannya, lalu ku dengar ia berbisik 


“Thank you, Clara.”
“Buat apa?” tanyaku bingung.
“Everything”
“Listen Clara” katanya dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya.
“Aku harus pergi sekarang, ya sekarang! Tapi aku janji, aku janji sama kamu aku akan datang menemui dirimu. Bahkan sebelum kau tahu, aku sudah menunggumu di depan rumahmu dan menjelaskan semuanya. Semua hal! Aku janji Clara…” ia berhenti sejenak. 
“I really have to go now, I promise Clara…aku akan menemuimu. This isn’t goodbye, hanya aku harus pergi. “ 

Adam mencium keningku sekali lagi dan perlahan ia melepas genggamannya dan melangkah menjauh. Aku berusaha meraih tangannya kembali sesekali berteriak “Adam tunggu! Kembali!” namun tak selirik matanya pun kembali kepada ku. 

Back to Mrs. Collins’s House 

“Dan sejak itu…dia tak pernah datang menemuiku seperti yang ia bilang padaku malam itu, ini sudah hampir 4 bulan ia tak kunjung datang…” 

Aku sadar selama aku bercerita tadi, aku terus menatap ke bawah. Saat aku mengangkat wajahku dan menatap ke depan, ku lihat mata Mrs. Collins berkaca-kaca. Dan tanpa ku sadari air mataku sudah menetes. 

“Clara, there’s something you didn’t know about Adam…” ia menghela napas panjang dan aku fokuskan mataku ke arahnya.
“Dia…mengidap penyakit tumor jinak di bagian organ terdalam tubuhnya sejak kecil, namun seiring waktu tumornya semakin tumbuh dan menjadi ganas…” 

Mataku membelalak. Ku tutup mulutku yang membuka lebar dengan satu tanganku. Adam mengidap tumor…………..bagaimana mungkin? 

“Dia tidak memberi tahu siapa-siapa kecuali saya dan orang tuanya. Tidak ke teman-temannya, tidak juga ke dirimu. Setiap hari Adam menyembunyikan kesakitannya dengan obat, dia selalu minum obat…tapi obat tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Dokter spesialis Adam berkata ia tak akan mampu bertahan sampai tahun baru, tapi ia bertahan…karenamu.” 

Air mataku jatuh seperti air terjun. Aku tidak dapat berbicara, tidak dapat berpikir jernih. 

“Kenapa?” hanya kata itu yang mampu ku luapkan dari bibirku.
“Karena Adam sangat mencintaimu. Ia tidak ingin kau khawatir terhadapnya. Ia tidak ingin kau merasa kehilangan atas kepergiannya…”
“Tapi aku kehilangan!” 

Kemudian hening. Mrs Collins beranjak dari sofa mungil yang ia duduki dan berjalan menuju kamarnya. Ia kembali dengan sebuah amplop berwarna biru muda di tangannya. 

“Kau sebaiknya pulang Clara, hari sudah semakin gelap. Dan bawa ini bersamamu.” Seraya memberikan amplop tersebut. Seperti membaca pikiranku, Mrs. Collins angkat bicara tentang isi amplop ini. 
“Itu surat yang ditulis Adam, hanya untukmu sebelum dia….menghilang. Please open it when you get home.” 

At Clara’s House 

Aku merasa seperti berada dibawah hasutan Mrs. Collins atau semacamnya, tapi aku benar-benar membaca surat ini ketika aku sampai di rumah. 
Rasanya mata ini sudah tidak sabar untuk melahap kata per kata dalam surat ini. 
Rasanya otak ini sudah menggebu untuk mencerna makna tiap baik pada surat ini.
Rasanya hati ini sudah tidak peduli seberapa menyayatnya tiap kalimat dalam surat ini. Sesampainya di rumah aku tidak ingin melepaskan apapun yang aku kenakan. Pikiranku hanya tertuju pada isi surat ini. Dengan jantung yang berdegup keras, ku buka perekat amplop surat dan mulai membaca. 

Dear my dear, Clara 

Sorry. Sorry. Sorry. Sorry. And sorry. That’s all I can say even I know from the very beginning, sorry is never enough.
Maafkan aku yang tak berani menatap matamu dan mengatakan hal ini.
Maafkan aku yang tak datang menemuimu seperti yang aku janjikan.
Maafkan aku yang merahasiakan kesakitan dalam tubuhku ini darimu.
Please forgive me, Clara. 

Did you know? The day after we met, my doctor told me I wouldn’t make it until new year. 
But I did!
Aku bertahan hidup lebih lama karena hadirmu. Aku bisa tersenyum di hari-hari terakhirku karena hadirmu. Bahkan untuk sesaat, aku merasa aku bisa hidup selamanya bersamamu…karena hadirmu. 

Dear Clara I know that I broke mu promise not come to see you…tapi aku berharap aku tidak mengingkari janjiku yang satu ini.
Aku berjanji untuk menjelaskan semuanya. Dan aku menjelaskan semuanya di surat lusuh ini. Aku mengidap tumor sejak aku masih kecil dan beranjak dewasa tumorku semakin menghabisi organ penting dalam tubuhku. 
Well, I know you probably have heard this from Mrs. Collins…but I at least still tell you.
And Clara, trust me when I say this, I really truly deeply love you with all my heart. Your name is forever written in the bottom of my heart. I love you Clara. I love you.
Aku selalu ingin mengatakan 3 kata itu kapanpun aku bersamamu…hanya saja aku tak kuasa. 
I love you, Clara. 

Mungkin ini adalah akhir dari surat ini, yang aku tulis hanya untukmu. Maaf telah membuatmu lama menunggu untuk membacanya. Sesungguhnya Clara, even if you can forgive me I won’t be able to forgive myself.
Please do not cry, Clara. I beg you.
Please smile for me.
Remember that I will always love you, even we’re in different life. I love you, Clara. 

Sincerely me, Adam. 

And everything becomes clear to me. All this time I have loved Adam, I just couldn’t admit it. But I was loving the right person. He loved me too. That’s all I know. That’s all I need to know.And Adam, I love you too. Forever.

THE END

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com