(A Short Story)
Aku melangkah menelusuri jalan dengan membawa setumpuk
kertas hijau muda berukuran A4 di tanganku. Di setiap tiang dan dinding
bangunan tua di kota kecil ini, aku berhenti lalu ku tempelkan kertas-kertas
ini satu per satu pada tiang atau dinding yang aku temukan. Sejumlah kertas ini bertuliskan pencarian orang
hilang. Aku berharap ada orang yang berbaik hati untuk membantuku mencari Adam,
orang terpenting dalam hidupku. Aku tidak ingat sudah sejauh apa aku berjalan atau
sebanyak sebanyak apa telah ku tempelkan kertas-kertas ini. Namun hari sudah
semakin gelap, lingkar matahari mulai turun kebawah di sebelah barat, dan aku
sudah tiba diujung jalan kota tua ini. Aku memutuskan untuk menempel satu
kertas terakhir pada dinding bangunan kecil di sebelah kiriku. Saat aku hampir
selesai menempel, entah dari mana datangnya, seorang wanita tua yang gemuk dan
pendek, wajah keriputnya putih pucat, dan rambut pendeknya yang diikat
kebelakang sudah hampir putih semua berdiri di sebelahku. Ia menyipitkan matanya
dan mencoba membaca kertas yang saat ini, sudah tertempel di dinding.
LOST
: Michael Adam Harris
Age
: 17 years old
Specific
Looks : Brown hair, bright skin, grey eyes, 6”1 tall.
Last
Seen : January 1st
If
you see a person just like the characteristics above, please contact Clara
Shalom on 310-256-4496
Sebenarnya aku sudah menyertakan gambar Adam di kertas
itu, namun karena gambar Adam yang aku punya hanya tampak samping dirinya jadi
aku tambahkan ciri-ciri yang lebih lengkap.
“I knew this boy” kata waita tua itu tiba-tiba
“You knew ma’am? Wait, knew?” ku bertanya dengan mata
membelalak
“Tolong panggil aku Mrs. Collins,” katanya
“Dan kau
tak usah memperkenalka dirimu, I know who you are.” Aku tercengang.
“Bagaimana kau bisa mengenalku?”
“It’s a long story. Aku akan menceritakan semuanya
jika kau bersedia untuk minum teh bersama ku sore ini.”
Ku telan ludah di tenggorokkan ku lalu aku berkata
“baiklah.” Tak lebih keras dari sebuah bisikan.
At Mrs. Collins’s House
“So how close are you with Adam?” tanya nya seraya
menuang the ke dalam cangkir mungil di depan ku.
Ya, dia sudah bercerita semua yang dia tahu tentangku.
Adam yang memberitahunya. Dahulu Mrs. Collins adalah pengasuh Adam sejak ia
masih berusia bulanan. Orang tua yang masih sangat belia dan sibuk, tidak mampu
membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus Adam. Selama hampir 11 tahun Adam
diasuh oleh Mrs. Collins, namu pada tahun ke-11 itu pula Mrs. Collins
memutuskan untuk tidak mengasuh Adam lagi karena alasan usianya yang menua. Dua
tahun setelahnya, Mrs. Collins menemukan Adam di depan pintu rumahnya dengan
dua buah koper. Ia telah memutuskan utuk tinggal bersama Mrs. Collin dan
berjanji akan merawatnya, tentu saja Mrs. Collins bersedia menerima Adam di
rumah kecilnya.
“Bisa dibilang dekat sekali. Itulah alasan ku
mencarinya.”
“Kalian berdua pacaran?” dia bertanya sambil menatapku
lekat.
“I uh…I’m not sure…”
Aku tidak tahu apakah aku dan Adam ada hubungan selama
ini. Kami berdua memang selalu bersama, namun itu karena saling merasa nyaman
bersama satu sama lain. Yang aku tahu, aku ingin bersama Adam selamanya, aku
tidak bisa kehilanganya, itu saja.
“Ada alasan lain mengapa kamu mencarinya, Clara?” aku diam sejenak. Kurasa ini saatnya aku bercerita
tentang kejadian itu.
On New Year’s Eve
“You ready little bear?”
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” ku hampiri
dia lalu ku cubit lengannya.
“Awww! That hurts!” katanya seraya memberi ku tatapan
sedih palsu.
“Haha berlebihan, itu belum seberapa.” kataku
tersenyum.
Malam itu, 5 menit sebelum pergantian tahun dan Adam
telah berdiri di kerumunan orang di alun-alun kota. Setiap pergantian tahun
warga di kota ini selalu berkumpul disini dan menunggu jarum jam tepat menunjuk
ke angka 12. Kemudian tepat pukul 12 mereka secara serempak meniupkan terompet
diiringi dengan semburan indah kembang api warna-warni di langit malam. Ini
adalah kali pertama aku pergi ke alun-alun pada malam tahun baru. Sebelumnya
tidak pernah terpikirkan olehku untuk menginjakan kaki disini, pada waktu ini,
namun Adam berhasil mempengaruhi pikiranku.
“1 menit sebelum jam 12!” kata Adam sesaat mengulas
senyum indahnya kepadaku.
“Yap. You excited?”
“Absolutely. Apalagi sejak aku bersamamu.”
Dia
menatapku. Mata abu-abu pekatnya yang menawan metama mata hitamku. Perlahan aku
terseyum memandangnya. Memandang sosok yang begitu sempurna di hadapanku.
“10…9…8…7…6…” orang-orang di sekitar aku dan Adam
mulai menghitung mundur. Kami berdua secara otomatis ikut berhitung mundur
menuju tahun baru.
“5…4…3…2…1……” *duar…duarrr…duaaarr*
*teneeett teeeett teneeet*
Suara terompet dan kembang api bersamaan menggelegar.
Kurasakan seseorang melingkarkan tangannya di pinggangku, lalu perlahan
menyentuh kedua tanganku kemudian menggenggamnya. Ku berbalik ke belakang dan
Adam sudah menatapku dari tadi. Dia menatapku dengan lekat dan dalam. Seperti
sesuatu menahan pikirannya. Kemudian dia melangkah mendekat, lebih dekat dari
sebelumnya ke arahku dan mengecupkeningku. Dia menggenggamku erat da mencium
keningku di kerumunan orang banyak, di tengah gelegar bising suara terompet dan
ledakan kembang api. Aku terdiam dan hanya bisa menggenggam kembali tangannya,
lalu ku dengar ia berbisik
“Thank you, Clara.”
“Buat apa?” tanyaku bingung.
“Everything”
“Listen Clara” katanya dengan intonasi yang berbeda
dari sebelumnya.
“Aku harus pergi sekarang, ya sekarang! Tapi aku
janji, aku janji sama kamu aku akan datang menemui dirimu. Bahkan sebelum kau
tahu, aku sudah menunggumu di depan rumahmu dan menjelaskan semuanya. Semua
hal! Aku janji Clara…” ia berhenti sejenak.
“I really have to go now, I promise
Clara…aku akan menemuimu. This isn’t goodbye, hanya aku harus pergi. “
Adam mencium keningku sekali lagi dan perlahan ia
melepas genggamannya dan melangkah menjauh. Aku berusaha meraih tangannya
kembali sesekali berteriak “Adam tunggu! Kembali!” namun tak selirik matanya
pun kembali kepada ku.
Back to Mrs. Collins’s House
“Dan sejak itu…dia tak pernah datang menemuiku seperti
yang ia bilang padaku malam itu, ini sudah hampir 4 bulan ia tak kunjung
datang…”
Aku sadar selama aku bercerita tadi, aku terus menatap
ke bawah. Saat aku mengangkat wajahku dan menatap ke depan, ku lihat mata Mrs.
Collins berkaca-kaca. Dan tanpa ku sadari air mataku sudah menetes.
“Clara, there’s something you didn’t know about Adam…”
ia menghela napas panjang dan aku fokuskan mataku ke arahnya.
“Dia…mengidap penyakit tumor jinak di bagian organ
terdalam tubuhnya sejak kecil, namun seiring waktu tumornya semakin tumbuh dan
menjadi ganas…”
Mataku membelalak. Ku tutup mulutku yang membuka lebar
dengan satu tanganku. Adam mengidap tumor…………..bagaimana mungkin?
“Dia tidak memberi tahu siapa-siapa kecuali saya dan
orang tuanya. Tidak ke teman-temannya, tidak juga ke dirimu. Setiap hari Adam
menyembunyikan kesakitannya dengan obat, dia selalu minum obat…tapi obat
tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Dokter spesialis Adam berkata ia
tak akan mampu bertahan sampai tahun baru, tapi ia bertahan…karenamu.”
Air mataku jatuh seperti air terjun. Aku tidak dapat
berbicara, tidak dapat berpikir jernih.
“Kenapa?” hanya kata itu yang mampu ku luapkan dari
bibirku.
“Karena Adam sangat mencintaimu. Ia tidak ingin kau
khawatir terhadapnya. Ia tidak ingin kau merasa kehilangan atas kepergiannya…”
“Tapi aku kehilangan!”
Kemudian hening. Mrs Collins beranjak dari sofa mungil
yang ia duduki dan berjalan menuju kamarnya. Ia kembali dengan sebuah amplop
berwarna biru muda di tangannya.
“Kau sebaiknya pulang Clara, hari sudah semakin gelap.
Dan bawa ini bersamamu.” Seraya memberikan amplop tersebut. Seperti membaca
pikiranku, Mrs. Collins angkat bicara tentang isi amplop ini.
“Itu surat yang ditulis Adam, hanya untukmu sebelum
dia….menghilang. Please open it when you get home.”
At Clara’s House
Aku merasa seperti berada dibawah hasutan Mrs. Collins
atau semacamnya, tapi aku benar-benar membaca surat ini ketika aku sampai di
rumah.
Rasanya mata ini sudah tidak sabar untuk melahap kata
per kata dalam surat ini.
Rasanya otak ini sudah menggebu untuk mencerna makna
tiap baik pada surat ini.
Rasanya hati ini sudah tidak peduli seberapa
menyayatnya tiap kalimat dalam surat ini. Sesampainya di rumah aku tidak ingin
melepaskan apapun yang aku kenakan. Pikiranku hanya tertuju pada isi surat ini.
Dengan jantung yang berdegup keras, ku buka perekat amplop surat dan mulai
membaca.
Dear my dear,
Clara
Sorry. Sorry.
Sorry. Sorry. And sorry. That’s all I can say even I know from the very
beginning, sorry is never enough.
Maafkan aku
yang tak berani menatap matamu dan mengatakan hal ini.
Maafkan aku
yang tak datang menemuimu seperti yang aku janjikan.
Maafkan aku yang
merahasiakan kesakitan dalam tubuhku ini darimu.
Please forgive
me, Clara.
Did you know?
The day after we met, my doctor told me I wouldn’t make it until new year.
But
I did!
Aku bertahan
hidup lebih lama karena hadirmu. Aku bisa
tersenyum di hari-hari terakhirku karena hadirmu. Bahkan untuk
sesaat, aku merasa aku bisa hidup selamanya bersamamu…karena hadirmu.
Dear Clara I know that I
broke mu promise not come to see you…tapi aku berharap aku tidak mengingkari
janjiku yang satu ini.
Aku berjanji
untuk menjelaskan semuanya. Dan aku menjelaskan semuanya di surat lusuh ini.
Aku mengidap tumor sejak aku masih kecil dan beranjak dewasa tumorku semakin
menghabisi organ penting dalam tubuhku.
Well, I know
you probably have heard this from Mrs. Collins…but I at least still tell you.
And Clara,
trust me when I say this, I really truly deeply love you with all my heart.
Your name is forever written in the bottom of my heart. I love you Clara. I
love you.
Aku selalu
ingin mengatakan 3 kata itu kapanpun aku bersamamu…hanya saja aku tak kuasa.
I
love you, Clara.
Mungkin ini
adalah akhir dari surat ini, yang aku tulis hanya untukmu. Maaf telah membuatmu
lama menunggu untuk membacanya. Sesungguhnya
Clara, even if you can forgive me I won’t be able to forgive myself.
Please do not
cry, Clara. I beg you.
Please smile
for me.
Remember that
I will always love you, even we’re in different life. I love you,
Clara.
Sincerely me,
Adam.
And everything becomes clear to me. All this time I
have loved Adam, I just couldn’t admit it. But I was loving the right person.
He loved me too. That’s all I know. That’s all I need to know.And Adam, I love you too. Forever.
THE END
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment