Anyway, kali ini gue akhirnya memberanikan diri untuk mem-post cerpen pertama gue...well cerpen pertama yang gue publikasikan, bukan ditulis.
Please, give me your credit!
Antara Aneh dan Unik
“ANEH!!” kata pertama yang
terlontarkan dari mulut Fiona, sang “pentolan” grup cewek yang ada di kelasku.
Pagi ini aku menunjukkan Fiona dan 5 orang teman ceweknya tas yang baru aku
beli. Dan itulah respon dari dirinya.
“Kok bisa sih lo beli tas motif sapi
kebun kaya gini? Gila lo ya!” katanya lagi.
Motif tas baruku polkadot hitam putih
dan ada bunga matahari besar di bagian depannya. Saat aku membeli tas ini, aku
kira ini lucu, trendi dan beda dari yang lain.
“Lo itu cewek teraneh yang pernah
lahir di dunia, Ser!”
dan itu kalimat yang aku dengar dari bibirnya saat aku berjalan menuju tempat dudukku di pojok belakang sebelah kiri. Fiona dan teman se-gengnya menyebutku aneh. Satu kelas menyebutku aneh. Sebagian guru juga berpendapat demikian, namun mereka menutupinya dengan sebutan yang lebih halus, "berbeda". Yah, memang kata itu terdengar lebih halus. Aku terkenal sebagai "The Quirky Serena".
dan itu kalimat yang aku dengar dari bibirnya saat aku berjalan menuju tempat dudukku di pojok belakang sebelah kiri. Fiona dan teman se-gengnya menyebutku aneh. Satu kelas menyebutku aneh. Sebagian guru juga berpendapat demikian, namun mereka menutupinya dengan sebutan yang lebih halus, "berbeda". Yah, memang kata itu terdengar lebih halus. Aku terkenal sebagai "The Quirky Serena".
Sebenarnya aku Cuma tidak menyukai
kebanyakan hal yang remaja cewek di sekolahku sukai. Mereka suka memakai
seragam dengan rok abu diatas lutut dan baju putih yang memperlihatkan bentuk
tubuh mereka, sedangkan aku lebih suka memakai rok yang hampir sebetis dan baju
putih yang ukurannya sedikit lebih besar dari ukuranku. Mereka kebanyakan
mengikuti eskul dance, teater, atau renang, sedangkan aku jatuh hati kepada
eskul bela diri judo. Saat film terbaru perdana diputar di bioskop mereka heboh
tentangnya, sedangkan aku berpikir film-film tahun 80 dan 90-an jauh lebih
menarik, bahkan aku juga cinta mati sama film yang masih hitam putih. Aku
beranggapan menyukai hal atau benda yang sudah banyak orang di sekitar kita
yang juga menyukainya tidaklah menyenangkan. Menurutku itu sama saja hanya
ikut-ikutan yang lain dan tidak punya ciri khas.
Di sekolah ini aku tidak punya banyak
teman. Bahkan, aku tidak yakin apa ada yang mau berteman denganku. Setiap hari
aku selalu sendiri. Teman-teman sekelasku hanya bicara denganku seperlunya.
Jika ada tugas kelompok yang menyertakanku di kelompoknya atau jika ia disuruh
mencari sebuah buku referensi oleh guru saja. Tapi ada satu orang cowok yang
mau berteman denganku. Dito namanya.
Dia berpenampilan cukup keren dengan
kacamata perseginya, rambut sedikit panjang yang mengenai bagian atas lehernya
dan kulitnya yang terang. Cowok seperti dia cocoknya berteman dengan ketua tim
basket atau futsal di sekolah ini, tapi ia memilih untuk berteman denganku, si
aneh Serena.
Hari ini Dito mengajakku menonton
pertandingan basket antarkelas dan aku bersedia. Lagi pula, siapa yang akan
mengajakku selain dia. Penonton yang datang tidak terlalu banyak. Hanya sekitar
50 orang dari satu sekolah, Dan Fiona and The Genk ada disana. Dia melihatku
dan Dito dengan tatapan heran. Kemudian ia memisahkan diri dari gerombolannya
dan berjalan ke arahku.
“Ya ampun Dit, kok bisa sih lo temenan
sama si aneh ini?” katanya begitu ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan
aku dan Dito.
“Ya bisa lah...” jawab Dito acuh tak
acuh.
“Hmm, gue ingetin aja ya, lo bisa-bisa
ketularan virus anehnya si Serena loh!” Fiona berkata sambil tersenyum licik ke
arahku lalu pergi. Entah apa yang terjadi pikiran ini datang meracuniku. Kenapa
Dito mau berada di dekatku? Kenapa seseorang seperti dia yang sepatutnya
bergaul dengan Fiona memilih untuk jadi temanku? Tidakkah ini aneh?
“Aku pulang duluan ya” bisikku
perlahan kepada Dito dan pergi menjauh dari lapangan basket. Tapi aku bisa
merasakan Dito mengejarku.
“Serena kamu mau kemana?”
Aku berlari-lari kecil hingga aku
menemukan tempat yang sepi untuk merenung dan berdiam diri. Dan pelarianku
terhenti di samping perpustakaan. Aku menjatuhkan diriku dan duduk menyila
menyandarkan punggungku ke dinding samping perpustakaan. Untuk beberapa saat
aku terdiam dan memikirkan kembali hal yang tadi terbesit di benakku.
Renunganku buyar saat suara Dito yang tegas namun lembut menyambar telingaku.
“Kamu ngapain disitu, Ser?” aku
terdiam dan menundukkan kepalaku.
“Kamu kenapa Serena?” dia bertanya
lagi dan terdengar kekhawatiran di suaranya.
“Kamu kenapa mau jadi teman aku,
Dito?” aku bertanya pelan.
Dito tidak menjawab. Dia berjalan
mendekat lalu mengikutiku duduk menyila di depanku. Aku melirik wajahnya dan
kulihat ia tersenyum.
“Aku suka semua tentang kamu, Serena.”
Dia berkata “Aku suka cara kamu yang ingin terlihat beda. Aku suka cara kamu
yang memakai jaket kulit asli ke sekolah ketimbang varsity. Aku suka cara kamu
mengikat rambutmu diatas kepalamu dan bukan di belakang. Aku suka kamu yang
lebih suka baca novel bergenre crime ketimbang nongkrong di mall. Aku suka kamu
yang selalu memakai daster hello kitty saat kamu di rumah ketimbang hot pants.
Aku suka semua itu, Ser!” dia bilang sambil menatapku dalam-dalam. Aku
tersentuh.
“Kata orang-orang semua itu aneh, aku
aneh!”
Perlahan Dito menggeser tubuhnya lebih
dekat denganku, kemudian ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.
“Kamu bukan aneh… Kamu unik Serena!”
seulas senyum muncul di bibirnya. Senyum yang aku tahu ditujukan hanya untukku.

0 comments:
Post a Comment